Kacang Pistachio Jadi Pengganti Kopi Tanpa Risiko Insomnia (INFO)




Salah satu keluhan yang dirasakan banyak orang sehabis minum kopi adalah berdebar-debar dan susah tidur alias insomnia. Daripada susah-susah membuat kopi bebas kafein, para peneliti menyarankan untuk membuat kopi dari Kacang Pistachio.

Kopi bebas kafein atau decaffeinated coffee biasanya dibuat untuk mendapatkan aroma kopi yang nikmat, namun tidak perlu merasakan efek sampingnya. Beberapa orang merasa terganggu jika harus mengalami insomnia serta jantung berdebar setelah minum kopi.

Namun ketika dibuat versi bebas kafeinnya, harga secangkir kopi biasanya menjadi lebih mahal karena prosesnya membutuhkan peralatan yang lebih rumit. Selain itu menurut beberapa pakar, decaffeinated coffee tidak pernah benar-benar 100 persen bebas kafein.

Solusi paling tepat bagi yang ingin merasakan nikmatnya minum kopi tanpa harus berdebar-debar akhirnya ditemukan dalam sebuah penelitian di York University. Para peneliti mengamati kandungan Kacang Pistachio, lalu menyimpulkan bahwa kacang tersebut bisa dijadikan bahan baku kopi sehat.

Kacang Pisthacio yang berasal dari tanaman Pistacia terebinthus merupakan biji-bijian khas yang mudah ditemukan di berbagai wilayah timur tengah. Biji kacang yang bentuknya mirip almond tersebut sering dijadikan makanan kecil dan oleh-oleh khas dari tanah Arab.

Dalam penelitiannya, para ahli dari York University menggunakan kacang ini sebagai pengganti biji kopi. Proses pengolahannya sama yakni dipanaskan pada suhu 200 derajat celcius selama 10-20 menit, lalu digerus dan diseduh dengan air panas seperti kopi pada umumnya.

Analisis kandungan senyawa terhadap hasil seduhan menunjukkan, sebagian besar senyawa kopi ada di dalam seduhan Kacang Pistachio sehingga aromanya kurang lebih akan sama saja. Bedanya, seduhan kacang ini tidak mengandung kafein sehingga bebas dari risiko tidak bisa tidur.

"Sama seperti biji kopi biasa, proses penggorengan biji Kacang Pistachio juga bisa dimodifikasi untuk mendapatkan rasa yang berbeda," ungkap Dr Mustafa Ozel yang memimpin penelitian tersebut seperti dikutip dari Telegraph, Senin (29/8/2011).

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar