3 Slogan Radikal yang (Mungkin) Bisa Membuat Hidup Jadi Lebih Baik (INFO)




Pernah baca atau tahu tentang seseorang bernama Gershon Legman? Dia adalah kritikus budaya yang mengklaim slogan “Make love, Not War” sebagi slogan ciptaannya, di tahun 60-an. Penelope Rosemont adalah hippies yang sangat ngefans sekaligus mempopulerkan slogan ‘Make love, not war’ buatan Gershon dengan cara mencetak ribuan kancing baju dan membagi-bagikannya di saat perayaan ‘Mother’s Day Peace’ di bulan Maret beberapa tahun kemudian.

“Terus?” Terus, ya… terus terang saya iri terhadap mereka-mereka yang hidup di era 60-an. Mereka berhasil melakukan perubahan cara pandang masyarakat luas, HANYA DENGAN SATU SLOGAN RADIKAL! Sementara di era saya (90-an), orang sudah mulai malas mendengar slogan. Slogan sudah dimonopoli sekaligus dikontaminasi oleh pesan-pesan niaga yang menjunjung konsumerisme setinggi-tingginya.

Saya ingin mengutarakan 3 slogan baru yang mungkin terdengar radikal, tetapi saya yakin bisa membuat hidup menjadi lebih baik:

Quote:
1. Break The Law, Not Hearts
Sekarang kita lebih sering melihat orang menyakiti hati manusia lain atas nama ‘ATURAN’. Banyak pejabat mengatasnamakan penegakan hukum lalu menyakiti hati rakyat—lebih mengutamakan hukum itu sendiri dibandingkan menciptakan rasa keadilan yang sesungguhnya. Bukan hanya pejabat, tetapi juga kaum religius, kaum akademisi, bahkan manajer di perusahaan tahu-pun sudah sering menggunakan alasan “implementasi aturan perusahaan” untuk menindas para pekerja.

Saya sangat berharap, ada orang yang mau berhenti mengatasnamakan penegakan hukum untuk menyakiti umat manusia lain. Kalau perlu, sekali-kali langgarlah hukum demi tidak menyakiti hati rakyat, orang tua mahasiswa, para pekerja dan umat manusia secara luas. Sekali-kali, abaikan hukum, tektek bengek aturan dan birokrasi lainnya untuk memanusiakan manusia.
Quote:
2. Bring Sympathies, Not Euphoria
Sudah sangat banyak kejadian memilukan yang mengundang euforia dukungan membludak. Lalu berujung pada fund rising, pengumpulan koin untuk si A, si B, C dan seterusnya?

Tak ada salah degan acara amal, tak ada salah dengan pengumpulan koin. Tetapi saya jadi ragu ketika euforia menjadi budaya. Budaya yang lebih mengutamakan euforia dibandingkan simpati—yang bukannya menghentikan masalah, melainkan membiasakan masyarakat menjadi manja, sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit minta koin, sedikit-sedikit bikin Facebook page, dan bentuk euforia lainnya.

Apa kabarnya Darsem? Akhirnya dia harus berkalang cemooh, padahal semuanya berawal dari kasus mengharu-biru, lalu berubah menjadi euforia. Apa kabarnya puluhan (atau ratusan) TKW lainnya yang sekarang mungkin sedang menghitung hari-hari terakhir? Adakah simpati itu tersisa? Mana auforia itu? Mana koinnya? Atau sudah ada agenda koin lainnya?
Quote:
3. Keep Commitments, Not Mysteries
Begitu banyak kasus heboh belakangan ini yang akhirnya membuat presiden dan para pejabat mengucap janji lagi dan lagi “Kita buka kasus ini ke publik agar terang benderang”. Apa yang terjadi kemudian? Muncul kasus baru, yang membuat kasus sebelumnya hilang ditelan misteri, tanpa ada penyelesaian yang jelas. Lalu sang pemimpin membuat janji baru “Kita usut dan tangani kasus ini hingga tuntas”. Begitu terus: Komitmen-misteri-komitment-misteri.
Kapan komitmen itu akan dipenuhi jika pada kenyataannya setiap kasus selalu berujung menjadi misteri?
Akhirnya, saya berpikir: Sekali-kali, mungkin perlu bersikap radikal untuk melepaskan belitan gurita perilaku buruk yang sudah terlanjur mengakar dan membudaya. Bagaimana menurut anda?  
Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar