‘Sindrom Sangkar Kosong’, Saat Anak Meninggalkan Rumah (INFO)


Saat seorang anak harus meninggalkan rumah untuk kuliah atau menikah, sang ibu terkadang mengalami kesedihan yang mendalam. Kondisi ini dikenal dengan istilah empty-nest syndrome.
Empty-nest syndrome adalah istilah yang diberikan terhadap kondisi psikologis tertentu yang bisa mempengaruhi seorang perempuan ketika anak-anaknya mulai meninggalkan rumah.
Sindrom ini merujuk pada perasaan depresi, sedih atau kesedihan yang dialami oleh orangtua ketika anak-anak yang diasuhnya sudah beranjak dewasa dan akan meninggalkan rumah.
Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak akan memasuki kuliah atau menikah. Sindrom ini lebih memungkinkan terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Meski demikian bukan berarti kaum laki-laki tidak mengalami hal ini, perasaan ini bisa saja muncul tapi tidak separah pada kaum perempuan. Kemungkinan perempuan lebih sering mengalami karena dipengaruhi juga oleh faktor menopause.
Jika seorang ibu merasa sedih ketika anaknya harus meninggalkan rumah adalah suatu kondisi yang wajar atau normal. Terkadang ada ibu yang sampai menangis di kamar anaknya agar bisa merasa lebih dekat.
Seperti dikutip dari Netdoctor.co.uk, Kamis (1/7/2010) jika gejala yang muncul bertambah parah terutama kalau sudah lebih dari seminggu, sebaiknya segera konsultasikan dengan ahlinya.
Empty-nest Syndrome biasanya disertai dengan beberapa gejala:
1. Merasa dirinya sudah tidak bermanfaat lagi dan hidupnya telah berakhir.
2. Menangis secara berlebihan.
3. Merasa begitu sedih sehingga tidak mau lagi bergaul dengan teman-temannya atau bekerja kembali.
Dalam situasi tertekan yang serius, seseorang membutuhkan bantuan untuk mengobati kondisinya seperti:
1. Cobalah untuk mulai membicarakan mengenai kesedihan yang dialami. Jika kesedihan yang dialami sudah mendalam, ada kemungkinan membutuhkan obat antidepresan.
2. Dukungan dari orang-orang disekitarnya serta teman-teman terdekat juga sangat membantu seseorang merasa lebih baik.
3. Menjalani kembali kegiatan hobi yang bisa membuat seseorang tidak terlalu terfokus pada anaknya.
4. Buatlah rencana liburan keluarga dan menikmati pembicaraan yang panjang serta mulailah untuk memberikan anak privasi yang lebih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar