Perbedaan benar dan betul (INFO)

 
 
Perbedaan benar dan betul paling terlihat dalam pemakaian kata-kata turunan keduanya. Pembetulan, misalnya, berhubungan dengan otak-atik perkakas tukang servis; pembenaran berkait dengan, antara lain, penilaian tentang pantas-tidaknya seorang keponakan anggota DPR menjadi kontraktor renovasi ruang kantornya. Di sini pembenaran bisa juga bermakna pembetulan, tapi pembetulan tidak biasa dipakai dalam arti pembenaran.

Begitu pula halnya dengan membetulkan dan membenarkan. ”Membetulkan komputer” sekadar mengacu pada apa yang dilakukan seseorang, apakah memang terjadi atau tidak; tapi ”membenarkan tindakan seorang hakim makan bersama berdua-duaan di restoran remang-remang dengan pengacara terdakwa dalam perkara yang sedang berlangsung” mengacu bukan hanya pada kejadiannya, melainkan terutama pada penilaian etis atasnya: adil atau tidak, patut atau tidak.

Perbedaan pemakaian ini bisa dipertajam untuk pembaca yang berbahasa Inggris: membetulkan adalah to correct, to repair, to revise; membenarkan, selain berarti sama dengan membetulkan, punya makna lain to justify, to legitimize, to confirm, dan, kadang-kadang, untuk pembenaran akal-akalan, to rationalize.

Begitu juga ada perbedaan antara kebetulan dan kebenaran. Kebetulan mengandung unsur ketidaksengajaan yang kuat. Kita tidak akan pernah mengatakan ”Kebetulan sekali setelah makan banyak saya jadi kenyang”, walaupun itu betul-betul terjadi karena kaitan makan dan kenyang bukanlah hal yang tidak terduga. Kebetulan jarang, kalau pernah, dipakai tanpa unsur ketidaksengajaan. Kebenaran juga bisa dipakai dalam arti ini. Namun, selain itu, kebenaran pun berarti sesuatu yang sungguh terjadi, atau kejadian yang berterima. ”Adalah kebenaran bahwa setelah makan banyak saya kenyang” merupakan kalimat yang wajar saja.

Sebenarnya dan sebetulnya tidak menunjukkan perbedaan demikian. Itu karena keduanya mengacu hanya pada fakta, sama dengan sesungguhnya. Sebenarnya tidak biasa diembel-embeli penilaian moral. Begitu pun kata dasar benar dan betul itu sendiri biasanya bisa dipertukarkan.

Jadi di sini kita melihat ada ketidaksimetrian di antara benar dan betul. Pembetulan/membetulkan biasanya berkait dengan sesuatu yang dianggap keliru secara faktual, seperti jawaban yang diberikan seorang siswa dalam ulangan; sedangkan pembenaran/membenarkan, selain bermakna sama seperti itu, juga dipakai sehubungan dengan sesuatu yang dianggap salah secara moral, seperti tindakan siswa mencuri-salin jawaban murid lain dalam tes.

Ngomong-ngomong soal ujian, apakah pembaca bisa memastikan bahwa berdasarkan pembedaan di atas, yang mana dari keadaan berikut yang pasti benar dan mungkin betul, dan yang mana belum tentu benar walaupun betul? Tidak keliru. Tidak berat sebelah. Jujur. Murni. Sah. Sungguh. Sejati. Legal. Mengiakan. Setia. Akurat. Memperbaiki. Dapatkah anda menjelaskan bahwa kenyataan ”Alibaba sudah terbukti mencuri uang untuk kampanye pemilihan atasannya”, apabila memang sungguh terjadi, bisa dibetulkan tapi tidak bisa dibenarkan? 
 
Quote:
“Saya Saras 008 pembela kebenaran!”
Tak mungkin toh berbunyi “Saya Saras 008 pembela kebetulan!” 
 
Quote:
“Eh, kebetulan banget gua ketemu cewek semanis elo,” tutur Tuan Agar Supaya.
Tentu juga tak mungkin jika Si Agar Supaya bilang, “Eh, kebenaran banget gua ketemu cewek semanis elo.” 

Quote:
“Ayah sedang membetulkan letak dasinya yang agak melenceng.”
Bukannya: “Ayah sedang membenarkan letak dasinya yang agak melenceng.” 
 
Quote:
Allah tidak pernah menjadikan apapun kejadian pada makhluknya dengan kebetulan! Semuanya adalah dengan kebenaran! Tanpa sedikitpun, secuilpun kesia-siaan!
 
Quote:
Pahlawan itu selalu membela kebenaran
Aku bertemu dengan Budi hanya kebetulan saja 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar